Jumat, 29 Agustus 2014

Gadis Penjual Bunga

Seorang eksekutif muda sedang istirahat siang di sebuah kafe terbuka. sambil sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba datang seorang gadis kecil menghampirinya sambil membawa beberapa tangkai bunga.
"Om, beli bunga, Om?"
"Tidak, Dik. Saya tidak butuh." ujar eksekutif muda tersebut dengan terus sibuk dengan laptopnya.
"Satu saja, Om. Khan bunga nya bisa untuk kekasih atau istri Om." rayu si gadis kecil.
Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasyikannya, eksekutif muda tersebut berkata, "Adik tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalau Om butuh akan beli bunga dari kamu."
Mendengar perkataan dari orang tersebut, si gadis kecil berlalu dan pindah ke pengunjung yang lain dengan maksud menawarkan bunganya.
Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, eksekutif muda tadi segera beranjak dari kafe tersebut. saat berjalan keluar, dia bertemu dengan gadis kecil yang tadi yang kembali mendekatinya.
"Sudah selesai sibuknya, Om? Sekarang beli bunga ini dong, Om. Satu tangkai saja gak apa-apa. Murah kok..."
Antara jengkel dan kasihan, eksekutif muda itu mengeluarkan sejumlah uang untuk diserahkan kepada gadis kecil tersebut. "Ini uang buat kamu. Saya tidak mau beli bunganya. Anggap saja ini sedekah buat kamu ya." ujar eksekutif muda sambil menyodorkan uang kepada gadis kecil. Uang tadi diambilnya, bukan untuk disimpan tetapi justru dikasihkan kepada pengemis yang sedari tadi duduk du teras kafe. Sang eksekutif muda pun heran dan merasa tersinggung.
"Kenapa uang tadi tidak kamu ambil? Malah justru kamu berikan kepada orang lain?"
Dengan polos, gadis kecil tersebut menjawab, "Maaf Om, saya sudah berjanji pada ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta.Ibu saya selalu berpesan, walau hidup susah dan tidak punya kita tidak boleh jadi pengemis."
Eksekutif muda itu tertegun. Betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang gadis kecil bahwa bekerja adalah sebuah kehormatan. Meskipun hasil yang kita peroleh tidak seberapa, namun keringat yang menetes dari sebuah kerja keras adalah kebanggaan. Akhirnya eksekutif muda tersebut mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli semua bunga si gadis kecil, bukan karena kasihan tetapi atas semangat kerja dan keyakinan gadis kecil tersebut yang telah memberinya pelajaran berharga.

Minggu, 03 November 2013

Tadabbur Alam

Adik-adik Remaja Musholla Bustanul Arifin di desa Gondang Kecamatan Tugu Trenggalek sedang punya gawe. Mereka menyelenggarakan sebuah kegiatan yaitu Tadabbur alam dengan peserta anak-anak santri Madrasah Diniyah.
Meskipun ini hal baru bagi para santri Madin, namun antusiasme mereka luar biasa. Dengan persyaratan peserta harus usia kelas 3 SD ke atas, tetapi ternyata ada beberapa yang masih di bawah usia tersebut bersikeras ikut. Total peserta yang ikut acara ini ada 35 anak.
Hari ini Minggu tanggal 3 Nopember 2013 tepat jam 06.00 WIB peserta secara bergilir diberangkatkan dari halaman Musholla.
Dengan berbekal peta sebagai petunjuk route yang harus dilalui peserta, masing-masing regu/kelompok harus berjalan menelusuri jalan yang telah dipilihkan.
Ada tiga POS yang harus didatangi oleh peserta untuk penugasan serta pengecekan kelengkapan peserta. Selain itu juga peserta bisa beristirahat untuk memulihkan tenaga.
Meskipun jalanan terus menanjak, namun peserta masih terus semangat karena ini adalah pengalaman yang luar biasa bisa mengenal ciptaan Allah yang begitu dahsyat.
Di puncak gunung, peserta mengukuti Game permainan serta kuis untuk menghilangkan kepenatan selain juga untuk menambah wawasan.
Peserta beristirahat untuk meneruskan perjalanan. Tidak lupa juga mampir ke sumber air untuk menambah bekal air diperjalanan.
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengenalan ayat-ayat ALlah melalui pengenalan alam dan lingkungan sekitar serta memupuk rasa syukur.
Dalam perjalanan pulang, tak lupa seluruh pesereta menyeberangi sungai untuk menghilangkan lelah, dan tentunya masih ada permainan dan game seru yang dilakukan di sungai.
Meski dalam perjalanan pulang tadi banyak yang mengeluh capek dan tidak kuat berjalan lagi, namun saat ketemu sungai, semua langsung bergembira dan tenaga yang tadi hilang sepertinya langsung kembali.
Semoga kegiatan ini benar-benar bisa bermanfaat bagi semua, baik panitia maupun peserta.
Ini kru Remus sedang survey lokasi dan Route.

Selasa, 08 Oktober 2013

Selamat Datang Cin.......

Selamat Pagi Cin..... Enaknya dilanjutkan pakai huruf apa ya? Kalau pakai "TA" nanti dikira lagi kasmaran. Kalau dilanjutkan pakai huruf "LOK" nanti dipikirnya lagi dapat gebetan di lokasi syuting. Tapi kalau dilanjutkan pakai huruf "DIL" jadi gak enak sama si TUKUS nanti dipikir aku lagi naksir anaknya. hehehe
Bai de we... hari ini aku ingin menyapa dunia dengan caraku. Melihat sekeliling yang masih sempurna seperti sedia kala rasanya sebuah anugerah buatku. Karena jika menjelang tidur, sempat terfikirkan bagaimana jika besuk bangun pagi dunia jadi gelap, dunia jadi tak seindah yang kemarin. Sehingga jika saat lampu padam saat terlelap tidur, aku selalu terjaga dan ketakutan. Ketakutan yang amat sangat. Aku sangat takut tidak bisa melihat.
Tapi syukurlah, nikmat ALlah selalu lebih besar dari yang kita fikirkan. Selalu lebih dari yang kita minta. Sehingga rasa syukur ini harus kita wujudkan dengan minimal menjadi KekasihNya yang setia.

Senin, 07 Oktober 2013

Di Sudut Kesempatan

Usianya yang sudah renta, tidak pernah dia sadari. Kondisi rumahnya yang jauh dari kata layak juga tidak pernah dia mengerti. Bahkan dia memakai baju seperti apa pun dia juga tidak pernah tahu.
Salah satu cobaan yang diberikan Allah kepadanya, sangat berat (menurut saya). Sejak kecil dia tidak bisa melihat keindahan dunia ini karena kebutaan yang dia derita sejak lahir. Dia tidak pernah memilih untuk terlahir seperti itu. Dia juga tidak pernah memilih untuk dilahirkan di tenagh-tengah keluarga yang serba kekurangan.
Ya.... Mbah Tu'inem. Itulah namanya. Dengan segala keterbatasannya, dia bisa bertahan hidup hingga usia renta. Meski harus mengandalkan belas kasihan dari orang lain, tapi dia tahu bahwa dia juga mempertahankan hidupnya. Bertempat di gubuk reyot dari bambu ukuran 2 X 3 M inilah Mbah Tu'inem menghabiskan berpuluh-puluh tahun hidupnya.
Seringkali orang-orang yang merasa iba dengan kondisinya memberikan bantuan sembako untuk dimakan sehari-harinya. Bagaimana tidak semakin menjadi pilu ketika melihat saudaranya juga terhimpit ekonomi. Saat Team Welas Asih (Sebuah kelompok Sosial di desa tersebut) mengunjungi Mbah Tu'inem pun hanya bisa berucap 'Matur Suwun' tanpa tahu siapa yang datang, tanpa bisa mengatakan yang lain.
Kondisi rumah dari luar saat Team WA berkunjung
Kini, Mbah Tu'inem telah tiada. Sudah lebih dari lima bulan dia berpulang ke rahmatulloh. Semoga kau diSisiNya lebih damai, Mbah. Dan ditemani cahaya-cahaya terang yang sudah lama menanti kehadiranmu.

Rabu, 02 Oktober 2013

Tidak Boleh Ketawa

Posting kali ini pembaca yang budiman dilarang tertawa, tersenyum atau bahkan menangis. Jika ada yang mengganjal silakan tuliskan komentar saja.
Gambar 1. Ini namanya jagung godog.
Gambar 3. Ini sedang diskusi serius. Berdua saja.
Gambar 4. Sedang ikut penimbangan di Posyandu.
Gambar 7. Sepertinya ada yang sedang "petung alus"
Gambar 60. Ini sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi....
Gambar 501. Pesta makan yang tidak pada tempatnya.
Gambar 175. Tidak mau diekspos.
Gambar 52. Opo sih, Broooo????
Gambar 110. Korban.
Gambar 66. Ada deh...
Gambar 94. Makan durian, bukan ngemut jari
Gambar 171. Ini siapa lagi??? Ketangkep kamera

Gadis Penambang Pasir

Sebuah Pilihan
Gadis ini harus berjuang demi mendapatkan pasir putih dengan kualitas terbaik sesuai harapan. Dia rela harus terapung-apung di tengah ombak laut yang siap menerpanya sewaktu-waktu.
Dia sering dibantu oleh sahabat-sahabat karibnya yang siap mendampingi dia.
Kita lihat perjuangannya mendapatkan pasir.
Tapi.....
Lihatlah bagaimana dia masih terus tersenyum dengan cerianya
Karena sebenarnya dia mencari pasir sekedar untuk dibawa pulang dan dibuat hiasan di meja ruang tamu. Hadehhhh.....

Kirab BERSIH DESA Ngantru

Taken at 13th September 2013
Upacara Adat Bersih Desa adalah salah satu kegiatan sosial adat yang dilakukan secara turun temurun di Trenggalek. Pada tahun ini tepatnya tanggal 13 September 2013 bertepatan dengan hari Kamis malam Jum'at Kelurahan Ngantru untuk pertama kalinya menyelenggarakan acara Bersih Desa di DAM Bagong.
Ini bisa menjadi sebuah hiburan gratis bagi warga sekitar, melihat arak-arakan pawai budaya yang hanya diselenggarakan setahun sekali. Banyak pihak yang terlibat dalam acara ini.
Salah satu program pemberdayaan yang sedang melaksanakan kegiatan di kelurahan ini juga turut memeriahkan dengan menunjukkan salah satu keberhasilannya yaitu membuka Salon Rias Kecantikan binaan LKM Giri Kuncung.
Tak mau kalah dengan yang lain, Bapak Lurah beserta Ibu juga turut pawai keliling kelurahan.
Partisipasi warga juga nampak dari wajah antusiasme mereka.
Kerbau yang akan disembelih keesokan harinya sebagai korban di DAM.
Kreativitas warga
Semoga acara ini bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk mau mampir dan berkunjung ke Trenggalek, kota kecil yang adem ayem.